Rabu, 06 Juni 2012

Konser LADY GAGA "BATAL"

Diposting oleh Eva Listiana di 00.05 0 komentar
Siapa sieh yang gak kenal dengan artis yang satu ini. LADY GAGA, artis yang terkenal dengan ciri khas berpakaian nyentrik.... waaahhh.....



bagi penggemar berat lady gaga jangan kecewa yaaa... dengan memberitaan konser lady gaga di batalkan dengan kata lain lady gaga di cekal oleh pihak-pihak yang merasa tidak nyaman dengan  Aksi panggung Gaga dan sesi foto dari konser-konser sebelumnya tidak pantas ditonton. Pakaian yang dikenakan terlalu seksi, gerakannya erotis dan banyak mengumbar aurat sehingga dinilai bisa merangsang dan merusak moral bangsa, DLL.

Pro kontra konser penyanyi asal Amerika Serikat Lady Gaga di Jakarta masih belum usai. Konser yang sudah terjadwal pun nampaknya akan batal digelar padahal tiket sudah banyak terjual. Hal ini terkait permohonan ijin yang tidak diluluskan Polda Metro Jaya, konser Gaga yang akan digelar 3 Juni mendatang di Stadion Utama Gelora Bung Karno dicekal Polda Metro Jaya dengan alasan penampilan Gaga dinilai terlalu vulgar.

WAUUhhh... aku turut merasa sedih..... :'(






MORFEM - MK MORFOLOGI

Diposting oleh Eva Listiana di 00.02 0 komentar

MORFEM


1. Pengertian Morfem

Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun maknanya. (Bloomfield, 1974: 6).
Morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna dalam tutur suatu bahasa (Hookett dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan dengan konsep satuan gramatik, maka unsur yang dimaksud oleh Hockett itu, tergolong  ke dalam satuan gramatik yang paling kecil.
Morfem, dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga.
Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat dikatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang terkecil yang mempunyai makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong sebagai berikut
mem-perbesar
per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan –sar masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Contoh memperbesar di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat  mem- dan per- serta satu morfem bebas, besar.


2. Morf dan Alomorf

Morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai); sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya (misal [b¶r], [b¶], [b¶l] adalah alomorf dari morfem ber-. Atau bias dikatakan bahwa anggota satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai fungsi dan makna yang sama dinamakan alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah satu, dua, atau enam buah. Contohnya,  morfem meN- (dibaca: me nasal): me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-. Secara fonologis, bentuk me- berdistribusi, antara lain, pada bentuk dasar yang fonem awalnya  konsonan /I/ dan /r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan /b/ dan juga /p/; bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /d/ dan juga /t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya, antara lain konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk menge- berdistribusi pada bentuk dasar yang ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama tersebut  disebut alomorf.



3.  Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem

Untuk mengenal morfem secara jeli dalam bahasa Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada enam prinsip yang saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat Ramlan, 1980), yakni sebagai berikut:

3.1  Prinsip pertama
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem.
membaca                                        kemanusiaan
Contoh:
baca                                                   ke-an
pembaca                                          kecepatan
bacaan                                              kedutaan
membacakan                                 kedengaran
_








Karena struktur fonologis dan              Satuan tersebut walaupun
maknanya sama, maka satuan               struktur fonologisnya sama,
tersebut merupakan morfem                 bukan merupak morfem
yang sama.                                    yang sama karena makna gramatikalnya berbeda.

3.2  Prinsip Kedua
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonolis yang berbeda, merupakan satu morfem apabila bentuk-bentuk itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.
Contoh:
mem –             :  membawa
meN-
men  -              :  menulis
meny  -            :   menyisir
meng  -            :   menggambar
me-                   :   melempar
Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang dilekatinya.

3.3  Prinsip Ketiga
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur ontologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer. Perhatikan contoh berikut:
ber-       :  berkarya, bertani, bercabang
bel-        :  belajar, belunjur
be-         :  bekerja, berteriak, beserta
Kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat itulah yang disebut distribusi komplementer.


3.4  Prinsip Keempat
Apabila dalam deretan struktur, suatu bentuk berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah yang disebut morfem zero.
Misalnya:
1.    Rina membeli sepatu
2.    Rina menulis surat
3.    Rina membaca novel
4.    Rina menggulai ikan
5.    Rina makan pecal
6.    Rina minum susu
Semua kalimat itu berstruktur SPO. Predikatnya tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada kalimat a, b. c, dan d, verba aktif transitif tersebut ditandai oleh meN-, sedangkan pada kalimat e dan f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan (meN- tidak ada), kekosongan itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.

3.5  Prinsip Kelima
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda maknanya, maka tentu saja merupakan fonem yang berbeda.
Contoh:
1.    a.   Jubiar membeli buku
b.  Buku itu sangat mahal
1.    a.   Juniar membaca buku
b.   Juniar makan buku tebu
Satuan buku pada kalimat 1. a dan 1. b merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan buku pada kalimat kalimat 2. a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena maknanya berbeda.

3.6 Prinsip Keenam
Setiap bentuk yang tidak dapat dipisahkan merupakan morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan gramatik yang tidak dapat dipisahkan lagi atas satuan-satuan gramatik yang lebih kecil, adalah morfem. Misalnya, satuan ber- dan lari pada berlari, ter- dan tinggi pada tertinggi tidak dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih kecil. oleh karena itu, ber-, lari, ter, dan tinggi adalah morfem.


4.   Klasifikasi Morfem

4.1  Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Morfem ada yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas karena ia dapat berdiri sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri sendiri.
Misalnya:
1.    Morfem bebas – “saya”, “buku”, dsb.
2.    Morfem terikat – “ber-“, “kan-“, “me-“, “juang”, “henti”, “gaul”, dsb.

4.2 Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai contoh, morfem {rumah}, dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h]. Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. oleh karena itu, morfem {rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental.
Morfem supra segmental adalah morfem  yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam bahasa Indonesia. Contoh:
1.    bapak wartawan               bapak//wartawan
2.    ibu guru                               ibu//guru

4.3  Morfem Bermakna Leksikal dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem yang bermakna leksikal merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem yang bermakna leksikal itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami pengolahan gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem {sekolah}. berarti ‘tempat belajar’.
Morfem yang tak bermakna leksikal dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh: {bersepatu} berarti ‘memakai sepatu’.

4.4  Morfem Utuh dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan morfem-morfem yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan {pergi}.
Morfem terbelah morfem-morfem yang tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfem-morfem itu terbelah oleh morfem yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat imbuhan ke-an atau {ke….an} dan imbuhan ber-an atau {ber….an}. contoh lain adalah morfem{gerigi} dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/. Jadi, ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu sendiri. morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan sisipan, yakni morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em-} pada morfem {getar}.

4.5  Morfem Monofonemis  dan Morfem Polifonemis
Morfem monofonemis merupakan morfem yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa Inggris pada seperti pada kata asystematic.
Morfem polifonemis merupakan morfem yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam bahasa Inggris morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti ‘satu, sama’.

4.6  Morfem Aditif, Morfem Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah morfem yang ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi, seperti yang terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang terbentuk dari morfem aditif itu.
1.    mengaji       2.  childhood
berbaju            houses
Morfem replasif merupakan morfem yang bersifat penggantian. dalam bahasa Inggris, misalnya, terdapat morfem penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} à {fi:t}.
Morfem substraktif adalah morfem yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur (fonem) yang terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis.




KLASIFIKASI KATA KELAS TERBUKA

PENGANTAR KLASIFIKASI KATA KELAS TERBUKA Konsep kata yang umumnya kita jumpai dalam berbagai buku linguistik adalah bahwa kata merupakan bentuk yang mempunyai susunan fonologi yang stabil dan tidak berubah, dan keluar mempunyai kemungkinan mobilitas didalam kalimat. Batasan atau konsep itu menyiratkan dua hal. Pertama, bahwa setiap kata mempunyai fonem yang urutannya tetap dan tidak dapat berubah, serta tidak dapat diselipi atau disela oleh fonem lain.
}   Kedua, setiap kata mempunyai kebebasan berpindah tempat didalam kalimat atau tempatnya dapat diisi atau digantikan oleh kata lain, atau juga dipisahkan dari kata lainnya.

A.     KRITERIA KLASIFIKASI KELAS TERBUKA
  kelas-kelas terbuka adalah kelas yang kenggotaannya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat penutur suatu bahasa.
  Kelas-kelas yang termasuk dalam kelas terbuka adalah kelas nomina, verba, dan ajektifa.

B.     AGGOTA DARI KELAS TERBUKA YAITU:
1. NOMINA   
        Ciri utama nomina atau disebut dengan kata benda.
        dilihat dari adverbia/pendampingnya kata-kata yang termasuk kelas nomina seperti berikut :
   Pertama, tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak.
contoh, kata-kata kucing, meja, bulan, dan rumah berikut adalah termasuk nomina karena tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak.
·      Keempat, dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah seperti satu, sebuah, sebatang, dan sebagainya. Misalnya:
        -Sebuah meja
        -Seekor kucing
        -Sebatang pensil
2. VERBA
Ò Ciri utama verba atau kata kerja. Yang dapat dilihat dari adverbia yang mendampinginya adalah bahwa kata-kata yang termasuk kelas verba.
Ò Pertama, dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa. Contoh:
     - tidak datang
       tidak pulang
     - tanpa makan
       Tanpa membaca
}  Kedua, dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi, seperti :
     -Sering datang
     -Jarang makan
}   ketiga, tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya. Misalnya:
     -sebuah *membaca
     -dua butir * menulis
      
     namun dapat didampingi oleh adverbia jumlah. seperti:
     -kurang membaca
     -sedikit menulis
     -cukup menarik
  keempat, tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat. Contoh:
     -Agak *pulang
     -Lebih *pergi
     -Sangat *minum
  Kelima, dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tenses). Contoh:
     -Sudah makan
     -Sedang mandi
     -Tengah membaca
     -Hendak pergi
  Keenam, dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian. Contoh.
-Belum mandi
-Baru datang
-Sedang makan
  Ketujuh, dapat didampingi oleh semua adverbia keharusan. Misalnya
-Boleh mandi
-Harus pulang
-Wajib datang
  Kedelapan, dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian. Contoh:
     -Pasti datang
     -Tentu pulang
     -Mungkin pergi
      
3. AJEKTIFA
     Ciri utama ajektifa atau kata keadaan dari adverbia yang mendampinginya adalah kata-kata yang termasuk kelas ajektifa.
Ò Pertama, tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi sering, jarang, dan kadang-kadang. Jadi, tidak mungkin ada.
     -Sering indah
     -Jarang tinggi
     -Kadang-kadang besar
Ò Kedua, tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah. Jadi tidak ada.
     -Banyak bagus
     -Sedikit baru
     -Sebuah indah
¢ Ketiga, dapat didampingi oleh semua adverbia derajat, contoh :
     -Agak tinggi
     -Cukup mahal
     -Lebih bagus
     -Sangat indah
     -Sedikit kecil
    
¢ Keempat, dapat didampingi oleh adverbia kepastian pasti, tentu, mungkin, dan barangkali. Contohnya:
     -Pasti indah
     -Tentu baik
     -Mungkin buruk
     -Barangkali cantik
  Kelima, tidak dapat diberi adverbia kala (tenses) hendak dan mau. Jadi bentuk-bentuk tak berterima.
     -Hendak indah
     -Mau tinggi
            Secara morfologi ajektifa yang berupa kata turunan atau kata bentukan dapat dikenali dari sufiks-sufiks (yang berasal dari bahasa asing) yang mengimbuhkannya. Contohnya:
ž Al : faktual, gramatikal
ž Il : materiil
ž Iah : alamiah, ruhaniah
ž If : efektif, kualitatif
ž Ik : mekanik, heroik
ž Is : teknis, kronologis
ž Istis : materialistis
ž I : islami
ž Wi : duniawi, surgawi
ž ni : gerejani
            Dilihat dari segi semantik, yakni dari komponen makna utama yang dimiliki dapat dilihat adanya kata-kata berkelas ajektifa yang memiliki komponen makna utama.
¢ Sikap batin : seperti kata-kata rumah, galak, baik, judes, takut.
¢ Bentuk : seperti kata-kata bulat, lonjong, bundar, lurus, bengkok.
¢ Ukuran : seperti kata-kata panjang, pendek, tinggi gemuk, ringan.
¢ Waktu atau Usia : seperti pada kata-kata lama, baru, muda, tua, remaja.
¢ Warna : seperti pada kata-kata biru, kuning, cokelat, ungu, merah.
¢ Jarak tempuh : seperti pada kata-kata jauh, dekat, sedang.
¢ Kuasa tenaga : seperti pada kata-kata lemah, kuat, segar, lesu.
¢ Kesan indra : seperti sedap, gurih, asin, pahit, manis, halus.


MORFOFONEMIK

       Morfofonemik (disebut juga morfonologi atau morfofonologi ) adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi,proses reduplikasi, maupun proses komposisi.

       1.1 Jenis perubahan
       Dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem berkenaan dengan proses morfologi ini.Di antaranya adalah proses :
                   1.Pemunculan fonem,contoh :          me + buat =  membuat .
                   2.Pelesapan fonem, contoh :            ber + renang =   berenang.
                   3.Peluluhan fonem, contoh :              pe + sikat =     penyikat.
                   4.Perubahan fonem, contoh :             ber + ajar =    belajar.
                   5.Pergeseran fonem, contoh :             ja.wab + an =    jawa.ban.

       1.2 Morfofonemik dalam Pembentukan Kata Bahasa Indonesia
       Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi.

     1.2.1 Prefiksasi ber-
     Morfofonemik dalam proses pengimbuhan prefiks ber- berupa :
a)     Pelesapan fonem /r/ pada prefiks ber-, misal :
         ber + ragam = beragam
b)     Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- menjadi fonem /l/, misal :
             ber + ajar = belajar
c)      Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ber-, misal :
             ber + lari = berlari

1.2.2 Prefiksasi me- ( termasuk klofiks me-kan dan me-  i )
     Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan  prefiks me- dapat berupa :
a)     Pengekalan fonem,hal ini terjadi apabila bentuk dasarnya di awali dengan konsonan /r,l,w,y,m,n,ng,dan ny/,contoh : me + rawat = merawat.
b)     Penambahan fonem,yakni penambahan fonem nasal /m,n,ng,dan nge/.Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsosnan /b/ dan /f/.Contoh :me + fitnah = memfitnah

v Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d/,contoh :
     me + dapat = mendapat
v Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /g,h,kh,a,l,u,e,dan o/.Salah satu contoh :
     me + goda = menggoda
v Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya hanya terdiri dari suku kata.Contoh :
     me + cat = mengecat.
c)      Peluluhan fonem terjadi apabila prefiks me- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan bersuara /s,k,p,dan t/. Contoh :
   me + sikat = menyikat
   me + kirim = mengirim
   me + pilih = memilih
1.2.3.Prefiksasi pe- dan konfiksasi pe-an
     Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks pe- dan konfiks pe-an sama dengan morfofonemik yang terjadi dalam proses pengimbuhan dengan me-,yaitu :
a.Pengekalan fonem,dapat terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /r,l,y,m,n,ng,dan ny/.Contoh :
       pe + latih             pelatih
                                pelatihan
       pe + rawat             perawat
                                perawatan
       pe + waris             pewaris
                               pewarisan
b.Penambahan fonem,yaitu penambahan fonem nasal /m,n,ng,dan nge/ antara prefiks dan bentuk dasar. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /b/.Contoh :
       pe + baca              pembaca
                               pembacaan
       Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /d/.Contoh :
       pe + didik             pendidik
                              pendidikan
       Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /g,h,kh,a,l,u,e, dan o/. Contoh:
       pe + gali           penggali
                           penggalian
       pe + inap          penginap
                          penginapan
       penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya berupa bentuk dasar satu suku. Contoh:
       pe +cat          pengecat
                        pengecatan
       pe + bom        pengebom
                        pengeboman
c. peluluhan fonem, apabila prefiks pe- (pe-an) diimbuhkan pada bentuk kata dasar yang diawali dengan konsonan bersuara /s,k,p, dan t/. Contoh:
       pe + saring          penyaring
                             penyaringan
       pe + kumpul         pengumpul
                              pengumpulan
       pe + tulis            penulis
                             penulisan

4.2.4 prefiksasi per- dan konfiksasi per-an.
morfofonemik dalam pengimbuhan prefiks per- dan konfiks per-an dibagi 3:
a. pelepasan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/.
       per + ringan           peringan
b. Perubahan fonem /r/ menjadi /l/ terjadi apabila bentuk dasarnya berupa kata ajar.
       per + ajar          pelajar
c. Pengekalan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang disebutkan pada a dan b di atas.
       per + kaya           perkaya
       per + cepat          perkaya
      
4.2.5 Sufiksasi -an
            Morfofonemik dalam pengimbuhan sufiks –an dibagi dua:
a. pemunculan fonem, ada tiga macam fonem yang dimunculkan dalam pengimbuhan ini, yaitu fonem /w/,/y/, dan fonem glotal /?/.
       pandu + an          panduwan
       hari + an           hariyan
       (ber) dua + an          (ber) dua?an
b. Penggeseran fonem, terjadi apabila sufiks 
       -an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan sebuah konsonan.
       jawab + an          ja.wa.ban

4.2.6 Prefiksasi ter-
     Morfofonemik dalam prosespengimbuhan dengan prefiks ter- dibagi menjadi tiga:
a. Pelepasan fonem dapat terjadi apabila prefiks ter- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan /r/.
     ter + rasa           terasa
b. Perubahan fonem /r/ pada prefiks ter- menjadi fonem /l/ pada kata anjur.
     ter + anjur            telanjur
c. Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ter- tetap menjadi /r/ apabila prefiks ter- diimbuhkan pada kata dasar selain a dan b.
     ter + lempar              terlempar

4.3 Bentuk Bernasal dan Tak Bernasal
Hadir dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan kata bahasa indonesia sangat erat berkaitan dengan tiga hal, yaitu :

4.3.1 Kaitan dengan tipe verbal
       Dalam bahasa indonesia ada empat macam tipe verba dalam kaitannya dengan proses nasalisasi.
a. Verba berprefiks me-, me-kan, dan me-I.
b. Verba berprefiks me- yang bentuk dasarnya berupa pangkal berafiks per-, per-kan, dan per-i.
c. Pembentukan nomina pelaku berprefiks pe- dan nomina hal yang berkonfiks per-an tidak memunculkan bunyi penasalan pada kita.
d. Dan ada sejumlah akar dalam bahasa indonesia yang dapat diimbuhi prefiks ber- dan juga prefiks me-.

4.3.2 Kaitan dengan upaya pembentukan  istilah
Misalnya pada kata-kata berikut:
       -petembak
       -petenis
       -peterjun
       Sebenarnya menurut kaidah penasalan haruslah bernasal, tetapi sebagai istilah yang dibuat secara analogi maka tidak diberi nasal.
4.3.3 Kaitan dengan upaya semantik
       Untuk memberikan makna tertentu bentuk yang seharusnya tidak bernasal diberi nasal.
       Contoh:
                   - mengkaji           mengaji
                   -pengrajin            perajin
                   -pengrumahan            perumahan



PROSES MORFOLOGIS

Morfologis adalah bagian dari kajian morfoligi, yakni ilmu yang mempelajari mengenai bentuk kaidah bahasa. Adapun proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari kesatuan yang lain yang merupakan bentuk dasarnya ( Ramlan: 1979). Bentuk dasar sendiri bisa berupa kata, seperti kata "berjalan" yang dibentuk dari kata "jalan, kata "menulis" dibentuk dari kata "tulis," "gedung-gedung" dari kata "gedung." Mungkin juga berupa pokok kata, atau istilah lainnya prakatagorial, misalnya kata "bertemu" dari pokok kata "temu," kata "mengalir" dari kata "alir;" mungkin berupa frase, misalnya frase "ketidakadilan" dibentuk dari frase tidak "adil."

Dalam bahasaIndonesia terdapat tiga proses morfologis, yaitu :

A.     Poses Pembubuhan Afiks (Imbuhan)
Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan afiks suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata. Misalnya pembubuhan afik ber- pada kata jalan menjadi berjalan. Pada sepeda menjadi bersepeda.
Bentuk tunggal => terdiri dari satu morfem, misalnya : makan, minum.
Bentuk kompleks => terdiri lebih dari satu morfem : rumah makan, berlari,.
Kata berlari terdiri dari dua morfem yakni morfem [ber-] dan morfem [lari].
Satuan yang dilekati afiks atau yang menjadi dasar pembentukan bagi satuan yang lebih besar disebut bentuk dasar, dalam contoh di atas kata jalan adalah bentuk dasar dari berjalan, kata sepeda adalah bentuk dasar dari kata bersepeda

Bentuk afiksasi yang salah!
Tak jarang kita mendengar dipungkiri, atau kata mempesona. Kata-kata tersebut memiliki intensitas yang cukup tinggi, artinya sering diucapkan. Tapi apakah kata-kata tersebut sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia? Berikut sedikit pembahasan:
Fonem /N/ pada morfem meN berubah menjadi fonem /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutiya berawal /p,b,f/.

Misalnya:meN+pesan => memesan

meN+pukul => memukul

meN + potong => memotong

meN + Pesona => memesona

Jadi sudah jelas bahwa kata yang benar adalah memesona, bukan mempesona. Lalu bagimana dengan kata dipungkiri? Kata dipungkiri adalah bentuk yang salah. Dalam KBBI tidak ada kata dasar pungkir yang ada adalah mungkir jadi bentuk yang benar adalah dimungkiri.

B.     Proses Pengulangan (Reduplikasi)
Proses pengulangan atau reduplikasi adalah pengulangan suatu gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan tersebut disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang disebut bentuk dasar. Misalnya kata ulang rumah-rumah dibentuk dari kata dasar rumah, kata ulang berjalan jalan dibentuk dari kata berjalan kata ulang bolak balik berasal dari kata balik.
Akan tetapi kita sering terkecoh dengan bentuk yang mirip dengan kata ulang, tetapi susunguhnya bukanlah kata ulang, jika dilihat dari tinjauan deskriptif. Misalnya kata-kata berikut: sia-sia, huru-hara, mondar-mandir. Kata-kata tersebut bukanlah kata ulang, karena sebenarnya tidak ada satuan atau kata dasar yang diulang. kata sia-sa bukan berasal dari kata dasar sia, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ada kata dasar sia, begitupun dengan kata huru-hara, dan kata mondar-mandir.

C.      Proses Pemajemukan
Dalam bahasa Indonesia kerap sekali ditemukan gabungan dua kata yang membentuk makan baru. Kata yang terjadi dari gabungan dua kata tersebut lazim disebut dengan kata mejemuk. Rumah sakit, meja makan, kepala batu.

Cara Membedakan Antara Kata Menjemuk Dengan Yang Bukan Kata Mejemuk?
Misalnya saya beri contoh kursi malas dengan adik malas. Mana diantara contoh tersebut yang merupakan kata mejemuk.

Dilihat dari kategori pengolongan kata, kata kursi malas dan adik malas terdiri dari kata benda dan kata sifat. Artinya keduanya mempunyai kemungkinan sebagai klausa dan sebagai frase.
Jika kursi malas sebagi klausa, tentu dapat diikuti dengan kata itu, misalnya menjadi *kursi itu malas, kata malas dapat diikuti dengan kata sangat,tidak agak, *kursi itu sangat malas,* kursi itu agak malas. Jelaslah bahwa semua itu tidak lazim. berbeda halnya dengan adik malas, dapat diperluas menjadi *adik yang malas, atau adik itu sangat malas. Jadi jelas kursi malas bukanlah klausa.

Jika kursi malas itu fase, tentu dapat disela dengan kata yang, misalnya pada contoh tadi; adik malas dapat disisipi kata yang menjadi adik yang malas. Sedangkan kursi yang malas tidak lazim atau tidak berterima, oleh karena itu maka kursi malas bukanlah frase melaikan kata majemuk.
 

CATATAN KU Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea